Tantangan global yang semakin turbulance, yang ditandai dengan perubahan besar dalam dunia telekomunikasi, internet dan sektor lainnya dapat dijadikan ancaman ataupun peluang. Sebagai bangsa Indonesia yang memiliki lebih dari 200 juta penduduk, moment globalisasi diharapkan dapat dijadikan sebagai peluang mengembangkan inovasi yang berkelanjutan, sehingga dalam jangka panjang dapat menciptakan daya saing di dunia internasional.
Bahasan ini mengemuka pada diskusi interaktif “ Globalization-Opportunities for Innovation” yang digelar di Business Inovation Center (BIC) Mega Glodok Kemayoran pada 13 Maret 2008. Acara ini mengulas tentang penjajakan “multi dimensi” berbagai peluang inovasi untuk produk, jasa, dan solusi yang terbuka lebar sebagai dampak dari globalisasi.
Diskusi ini menampilkan pembicara, TVG Krishnamurthy, seorang pakar inovasi dari India dan dimoderatori oleh Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Idwan Suhardi serta dibuka oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman. Dalam kata sambutannya, Direktur BIC mengatakan keprihatinannya bahwa Indonesia memiliki tingkat produktivitas sangat rendah, walaupun banyak tersedia tenaga kerja murah. Bila dibandingkan dengan negara maju yang sangat terbatas sumber daya alamnya, maka dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia belum sepenuhnya meningkatkan nilai tambah setiap aktivitas produksinya, dengan kata lain INOVASI belum menjadi satu kata kunci untuk meningkatkan produktivitas bangsa Indonesia. Bila dilihat dari anggaran pemerintah yang mencapai 1,4 Milyar tiap tahunnya untuk penelitian dan pengembangan teknologi yang didukung sekitar 2000 peneliti, tapi hasil yang dicapai belum begitu menggembirakan. Sinergi dari “triple helix” yang terdiri Akademisi, Bisnis dan Government merupakan salah satu upaya agar hasil-hasil penelitian (invention) dapat memberikan manfaat bagi terciptanya keunggulan dan kemandirian bangsa.
Kusmayanto Kadiman menambahkan, ada beberapa mitos yang seringkali menghambat pencapaian tersebut diantaranya, Satu Inovasi akan muncul kalau semua datang dari pemerintah. Hal tersebut tidak benar, beliau menjelaskan 3 komponen diatas harus kompak dalam memberikan nilai tambah yang bermanfaat. Kedua, Inovasi merupakan produk luar negeri. Itu juga salah, bila dikaji lebih dalam, bangsa Indonesia sebelumnya telah memiliki ide, konsep dan pemikiran pemikiran secara indigenous mulai dari jaman Ki Hajar Dewantara, yang muncul dalam slogan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsan, Tut Wuri Handayani, dan diperkuat lagi dengan slogan dari Kartono, yaitu 3N, Niteni, Niruake, lan Nambahake/Nambahke. Beliau berharap bangsa Indonesia berpijak dari pemahaman tersebut untuk menciptakan inovasi. Ketiga yaitu Globalisasi itu sebagai ancaman. Hal tersebut tidak tepat, Globalisasi merupakan suatu peluang, dan kita selain wajib melakukan pembentengan (fortifikasi), kita juga harus terus meningkatkan kreativitas, misalnya saja dengan penyadaran arti penting hak paten atas kekayaan intelektual yang dihasilkan.
Acara ini dilanjutkan dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara Kementerian Negara Riset dan Teknologi tentang pengembangan Business Innovation Center (BIC). Business Innovation Center (BIC), suatu lembaga intermediasi yang dikembangkan oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi bekerjasama dengan Pihak Swasta dan berfungsi sebagai jembatan interaksi antara kapasitas penyedia iptek dengan kebutuhan pengguna. (ristek.go.id)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|












