Jakarta, KOMPAS - Minimnya implementasi riset untuk menunjang inovasi teknologi industri membutuhkan inkubasi independen sebagai solusinya. Proses inkubasi secara independen ini merupakan upaya mencari bukti dasar keekonomian dan keandalan implementasi hasil riset untuk menekan risiko jika diadopsi industri. Namun, ini masih diabaikan pemerintah. ”Dengan banyaknya lembaga riset serta hasil-hasilnya yang belum diimplementasikan sampai sekarang, inkubator independen menjadi kebutuhan yang sangat penting dan mendesak,” kata Kepala Bidang Kerja Sama Komersial dan Pemanfaatan Hasil Penelitian pada Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Manaek Simamora, Rabu (4/3) di Jakarta.
Tahap persiapan
Menurut Manaek, LIPI sendiri baru pada tahap persiapan pembuatan inkubator di Pusat Sains Cibinong, Jawa Barat. Pada tahun 2010, diharapkan bisa beroperasi dan menjadi inkubator yang dikelola suatu lembaga yang independen. Sejumlah lembaga riset seperti dari perguruan tinggi dapat memanfaatkannya pula. ”Setelah ada analisis keekonomian dan keandalan suatu hasil riset sebagai hasil dari proses inkubasi, lembaga intermediasi berperan mempertemukan teknologi itu kepada industri,” kata Manaek. Hasil riset LIPI yang menjadi salah satu unggulan untuk segera diinkubasi saat ini, menurut Manaek, arloji shalat digital. Sebagai hasil industri kreatif para periset LIPI, arloji ini memiliki potensi pasar cukup banyak. Namun, pembuktian keekonomian dan keandalan teknologi melalui inkubator belum dilakukan sehingga kurang meyakinkan dunia industri untuk memproduksi secara massal. Secara terpisah, Direktur Eksekutif Business Innovation Center (BIC) Kristanto Santosa mengatakan, BIC, sebagai lembaga intermediasi antara lembaga riset dan industri yang dibentuk setahun yang lalu, hingga kini sudah memperlihatkan hasil.
Ditanggapi industri
Dari hasil penerbitan 100 inovasi terpilih, beberapa di antaranya sudah ditanggapi pelaku dunia industri. ”Salah satu yang menarik bagi dunia industri antara lain dari hasil riset tanaman mangrove. Dari riset Institut Pertanian Bogor itu sudah ditindaklanjuti untuk produksi zat warna alami, antioksidan, dan bahan kosmetik,” kata Kristanto. Keberadaan BIC juga menarik bagi negara lain. Kristanto menyebutkan, negara Jerman sekarang menawarkan teknologi kompor minyak jarak sebagai upaya perdagangan karbon. ”Harga kompor jarak dari Jerman itu Rp 350.000 per unit, tetapi bisa dimiliki secara gratis ketika dihitung sebagai program perdagangan karbon jika penggunaannya bisa mencapai 50.000 unit,” kata Kristanto.
Menurut Manaek, intermediasi hasil riset LIPI dengan pengguna sebenarnya juga sudah diupayakan sejak lama. Lokasinya berada di Dawuan, Subang, Jawa Barat, tetapi masih terbatas pada hasil riset untuk industri usaha kecil dan menengah. ”Hasil riset itu berupa teknologi tepat guna yang aplikatif bagi usaha kecil dan menengah. Ini berbeda dengan hasil riset lain yang membutuhkan inkubasi, terutama bagi dunia industri besar,” kata Manaek.(/NAW)
Kompas, 5 Maret 2009
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|












