Perekat Kayu Lapis dan Penggunaannya dalam Pembuatan Kayu Lapis
WHAT?
|
D alam industri pulp, kulit kayu akasia (Acacia Mangium) masih menjadi limbah yang dianggap tidak bernilai, padahal sebuah pabrik pulp rata-rata bisa menghasilkan 500 ton limbah kulit kayu. Penelitian menemukan bahwa limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai perekat dalam produk kayu lapis karena polyphenol alam tannin yang berguna dalam proses perekatan kayu lapis. Inovasi ini mengusulkan substitusi perekat UF (Urea Formaldehid) yang digunakan sampai sebanyak 60% yang berpotensi menekan biaya komponen perekat pada proses produksi kayu lapis, sekaligus dapat mengurangi tingkat emisi formalin dari produk kayu lapis sehingga dapat memenuhi persyaratan Japan Industrial Standard (JIS A 5098) untuk kategori interior I dan II. |
Acacia wood bark is still treated as waste materials in pulp industry, though it contains natural polyphenol (tannin) that can be used as adhesive materials in plywood industry. This innovation can potentially substitute UF (Urea Formaldehyde) resin commonly used in plywood industry and could potentially reduce cost of plywood production. Not only that, it is environmentally friendly as it reduces the formaldehyde vapor emission. |
WHY?
- Dapat memanfaatkan limbah industri pulp
- Dapat mensubstitusi urea formaldehid (UF) yang berbahaya bagi kesehatan sampai 60%
- Menunjang pembuatan produk ramah lingkungan
Potensi Aplikasi:
Tepat untuk industri perekat kayu lapis
Inovator:Institusi : Pusat Inovasi LIPI Status Paten : TELAH DIDAFTARKAN |
Prospektus:Kesiapan Inovasi : * * |











