Acara dimulai dengan introduksi mengenai konsep triple helix ABG. Konsep ABG bukan sesuatu yang baru tapi senantiasa “exciting” karena sifatnya yang dinamis seperti “anak baru gede”: challenging, risk taking, dan komunal (milik bersama), sekalipun seringkali “tidak efektif”. Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah untuk membuat sinergi ABG berjalan, Akademisi dicukupi kebutuhannya untuk melakukan penelitian, Bisnis ditawari berbagai skema untuk memanfaatkan hasil Litbang dan insentif lainnya, namun hasil dari kolaborasi ABG dinilai belum memuaskan
.
Kusmayanto Kadiman (KK) mengajak audience untuk membahas, apalagi yang diperlukan oleh ABG untk menjadikan kolaborasi / sinergi ABG di masa depan lebih efektif. Panelis kemudian ditawarkan kepada audience, dan ditampilkan Prof Kamaruddin Abdullah (IPB)-A, Sandiaga Uno-B, dan KK sendiri sebagai moderator merangkap G (semula Pak Edy Putra yang akan ditampilkan,namun meninggalkan tempat lebih awal).
Prof Kamaruddin Abdullah mengungkapkan berbagai kesulitan dan kendala yang dihadapi para akademisi, antara lain pola penganggaran yang tidak multi-year, berbagai kebijakan dan situasi dunia akademis yang kurang mendukung kerjasama dengan swasta.
Sandiaga Uno berkomentar senada dengan yang ditulis dalam sambutannya di 101 Inovasi Indonesia, bahwa indonesia bukan saja kaya sumber alam, potensi pasar yang besar, tetapi juga berpotensi untuk menjadi bangsa yang sukses karena sangat kaya dengan pemikiran-pemikiran baru yang inovatif. Hanya saja, berbagai kebijakan pemerintah sampai sekarang mesti dikaji ulang, yaitu bagaimana menjadikan semua sumber daya tersebut bisa diubah menjadi daya saing nasional. Sepertinya komponen ABG saat ini berjalan sendiri-sendiri dan belum menjawab kebutuhan mendasar, misalnya inovasi apa yang bisa diterapkan di level UMKM, tidak usah yang hebat-hebat, namun setidaknya bisa membuat Indonesia tidak mengimpor berbagai barang yang saat ini masih diimpor.
KK mengulas berbagai kebijakan dan insentif yang sebenarnya sudah diberikan dan disediakan kepada Litbang, yang belum sepenuhnya disambut oleh dunia Litbang. Sebenarnya banyak permasalahan yang dikeluhkan sudah diberikan jalan keluar, multi-year research, kerjasama LN, insentif bagi peneliti, perlindungan dan subsidi patent; namun belum dimanfaatkan sepenuhnya. Demikian juga berbagai insentif untuk melakukan riset dan penelitian yang diberikan ke dunia bisnis, tax deductions, insentif dan bantuan riset, pembebasan bea masuk untuk barang modal riset yang diimpor, namun sekali lagi sejauh ini belum ada fihak swasta yang memanfaatkan.
KK kemudian menawarkan ke audiens untuk memberikan tanggapan: Pak Firman Aji (USAID) mengatakan perlunya upaya-upaya inovasi yang dikomersialkan harus lebih banyak. Paul Deuster( USAID) saat ditanyai KK mengenai kelanjutan program Senada mengatakan bahwa prioritas dana hibah USAID akan lebih banyak diberikan ke kawasan pengembangan kebijakan (policy issues), transfer of technology, dan beasiswa pendidikan, tanpa menutup kemungkinan bahwa berbagai skema grant bisa dimanfaatkan untuk upaya-upaya inovasi termasuk mendanai kedatangan pakar inovasi dari US melalui kerjasama universitas. Pertanian akan menjadi fokus sektor, untuk merespons pada trend kerawanan pangan global. Pak Dasef Ahmadi (PT Sarimas Ahnadi Pratama) menyoroti perlunya peneliti untuk berpikir “pasar” dan berpikir bisnis (termasuk kemampuan entry, dan daya saing) sebelum memilih proyek inovasi. Khusus disoroti kesalahan persepsi bahwa pasar yang besar berarti berpotensi, padahal pasar yang besar mengundang persaingan yang belum tentu kondusif bagi produk inovator yang baru. Kemampuan identifikasi segmen pasar untuk entry sangat perlu. Pak Hilmi Panigoro (Medco Energi) menekankan perlunya inovasi bagi bisnis. Medco menempatkan Inovasi sebagai salah satu dari 4 “nilai” Korporat Medco. Inovasi berarti peluang membuat lompatan besar, menciptakan nilai dan daya saing. Tentu saja inovasi jangan hanya dilihat dari hasil/output namun juga dari prosesnya. Hal ini berimplikasi pada bagaimana Medco menilai para karyawan dan eksekutif Medco. Kegagalan mencapai output inovasi yang diharapkan tetap dihargai bila telah dilakukan dengan proses yang benar, sekalipun belum berhasil.
| < Prev | Next > |
|---|











