Disatu sisi, para peneliti berusaha melakukan penelitian dan inovasi dari sudut pandang mereka. Di sisi lain, para pebisnis melihat hasil penelitian dan pengembangan Lembaga Litbang dan Perguruan Tinggi, belum atau bahkan tidak cocok sama sekali untuk dibisniskan. Perbedaan frekuensi gelombang pemikiran ini yang coba disatukan di Pusat Inovasi Bisnis, yang diprakarsai oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Siaran IPTEK VOICE hari Selasa, 22 Januari 2008 pukul 08.30-09.00 WIB mengulas topik Pusat Inovasi Bisnis dengan narasumber Ir.Santosa Yudo,M.Sc., Asisten Deputi Urusan Difusi dan Diseminasi Iptek,Ristek dan Kristanto Santosa, Partner/ Productivity & Quality Management Consultants.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi bahwa tahun 2008 adalah tahun Inovasi, maka Ristek dengan PQM ( Productivity & Quality Management Consultants) bekerjasama dalam bidang pengembangan Pusat Bisnis Inovasi. Santosa menjelaskan, kita harus berani tampil beda, itulah makna inovasi. Karena dalam kamus bahasa Indonesia sendiri Inovasi adalah pembaharuan. "Inovasi harus memberi nilai tambah," jelas Santosa. Contoh sederhana inovasi dalam keseharian tukang sayur yang tadinya memikul dagangannya kemudian naik sepeda dan becak untuk berdagang, atau handphone yang tadinya berukuran besar sekarang dan berkapasitas rendah menjadi kecil dan berkapasitas besar tambah disain yang makin indah. "Inovasi bisa mencakup iptek, ekonomi dan seni," kata Santosa.
Oleh karena itu inovasi harus memiliki nilai lebih dari sebelumnya sehingga memberikan manfaat lebih juga kepada para penggunanya. Harus punya tampilan yang berbeda dan memiliki nilai tambah dalam segi bisnis, demikian kata Kristanto . Dalam persaingan bisnis yang makin meningkat, kemampuan kita berinovasi akan meningkatkan kemampuan kita dalam bersaing secara ekonomi.
Indonesia yang berpenduduk besar ini, sebenarnya mempunyai potensi pasar produk inovasi yang besar pula, namun menurut Santosa, saat ini produk-produk inovasi yang ada di negara kita ini sebagian besar dari luar negeri. Oleh karena itu diperlukan komitmen dari semua pihak untuk bersaing dengan produk dari luar negeri dengan cara meningkatkan peran dan mutu lembaga Litbang dan perguruan-perguruan tinggi.
Antara dunia bisnis dan dunia sains memiliki kultur yang berbeda, dalam dunia sains masih bisa mentolerir kegagalan sedangkan di dunia bisnis lebih kaku karena berusaha menekan kegagalan atau resiko. Oleh karena itu dibutuhkan sinergi utama dari 3 unsur yaitu Akademisi, Bisnis dan Government sehingga dapat tercipta interaksi antara keduanya. Dari sisi Akademisi harus bisa meningkatkan mutu penelitian dan melirik kedalam aspek produksi, dari sisi Bisnis harus mampu meningkatkan penyerapan dalam aspek IPTEK sedangkan dari sisi Government memastikan kerjasama itu terjadi dan berhasil. Oleh karena itu untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan suatu lembaga intermediasi di seluruh daerah untuk menghubungkannya, demikian jelas Santosa.
Untuk mewujudkan lembaga intermediasi itu, tahun 2008 Ristek mendirikan Pusat Inovasi Bisnis, dimana penyusunan konsepnya dimulai pada tahun 2007. Sebagai langkah awal, Ristek melakukan identifikasi hasil-hasil litbang yang berpotensi untuk dibisniskan dari sudut pandang iptek, setelah itu mengundang pihak bisnis untuk melihat dan menilai, apa yang telah dihasilkan oleh Lembaga Litbang dan Perguruan Tinggi, serta produk mana saja yang memiliki nilai jual dan mana yang tidak. Dari sini diharapkan terjadi deal bisnis. Kalau tidak, kita bisa mendapatkan feed back dari mereka untuk dikembangkan lagi oleh para peneliti.
Sahabat Iptek...simak terus informasi Iptek yang menarik dan berguna lainnya dari narasumber pakar dibidangnya pada siaran radio IPTEK VOICE langsung dari studio mini Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Gedung BPPT II lt.8, Jl. M.H.Thamrin 8, Jakarta setiap hari Selasa pukul 08.30-09.00 WIB dan Kamis pukul 16.30-17.00 WIB di RRI Pro2 FM Jakarta (105.0 FM).
IPTEK VOICE "The Sound of Science". (ristek.go.id)
| < Sebelumnya |
|---|












